Yang melihatku di ujung sudut jendela
langit bewarna biru
Terkadang jingga jika ia sedang suram
dan merah jika ia sedang marah
Ingin di dengar namu tak mau mengucap
Berucap tapi tak tahu maksud
Diam juga bukan marah
burung pipit mencricit
Tinta penaku terus tergores
Tapi tetap bingung
Bukan takut berucap
Namun takut salah mengartikan
Cerpen dan sajak bait dari setiap isi dan rasa hati Bukan dari hati tapi dari perasaan yang terlalu kokoh untuk di kikis
Senin, 06 April 2020
Selasa, 06 Agustus 2019
Kita hanya
Dua orang yang sudah pasti tak akan bersatu
Tapi memaksa untuk harus tetap bersatu
Dua orang yang terlampau tanpa jarak
Tapi terasa sangat berjarak
Dua orang sudah pasti tidak akan bisa untuk bersama
Tapi juga harus memaksa bersama
Bukan tidak adil bukan pula tidak imbang
Tapi itulah kenyataan bersama hanya untuk saling mrnyakiti
Bersama hanya untuk terlihat agar sepasang
Bersama juga agar ada teman untuk kemana-mana
Kita
Tapi memaksa untuk harus tetap bersatu
Dua orang yang terlampau tanpa jarak
Tapi terasa sangat berjarak
Dua orang sudah pasti tidak akan bisa untuk bersama
Tapi juga harus memaksa bersama
Bukan tidak adil bukan pula tidak imbang
Tapi itulah kenyataan bersama hanya untuk saling mrnyakiti
Bersama hanya untuk terlihat agar sepasang
Bersama juga agar ada teman untuk kemana-mana
Kita
Faken
Kehadirannya selalu di tunggu
Apapun tentangnya selalu membuat penasaran
Saat sudah bersama rasa tak ada
Ibarat
Air bertemu dengan minyak tak bisa bersatu
Angin bertemu dengan asap menghilang dan menyakitkan
Begitupun
Aku dan kamu
Dua insan yang sudah tak bisa bersatu
Tapi selalu memaksa untuk bersama
Selalu menutupi lobang-lobang yang mulai terlihat
Selalu terlihat bahagia di depan, padahal nihil di belakang
Tak pernah menemukan seluruh ragamu lagi untuk tetap bersamaku
Kau menghilang dan aku berpura-pura
Apapun tentangnya selalu membuat penasaran
Saat sudah bersama rasa tak ada
Ibarat
Air bertemu dengan minyak tak bisa bersatu
Angin bertemu dengan asap menghilang dan menyakitkan
Begitupun
Aku dan kamu
Dua insan yang sudah tak bisa bersatu
Tapi selalu memaksa untuk bersama
Selalu menutupi lobang-lobang yang mulai terlihat
Selalu terlihat bahagia di depan, padahal nihil di belakang
Tak pernah menemukan seluruh ragamu lagi untuk tetap bersamaku
Kau menghilang dan aku berpura-pura
Tertipu daya
Jangan memulai awal yang manis jika mengakhiri dengan pahit
Jangan membuka terlalu lebar pula pintu ketika ada orang asing mengetuknya
Memberi ucapan selamat, lalu menjabat tangan dan tersenyum manis
Tertipu daya dirimu
Memulai dengan pelangi dan di akhiri dengan sapuan badai yang tebal
Jangan membuka terlalu lebar pula pintu ketika ada orang asing mengetuknya
Memberi ucapan selamat, lalu menjabat tangan dan tersenyum manis
Tertipu daya dirimu
Memulai dengan pelangi dan di akhiri dengan sapuan badai yang tebal
Bumi
Di bumi ini tidak ada yang abadi
Plastik saja butuh waktu bertahun-tahun untuk hancur
Memang lama untuk hancur. Tapi akan tetap hancur bukan?
Tidak ada yang abadi juga, cuaca akan berubah setiap saat
Mood juga selalu berubah
Mengenal yang baru bukan bearti melupakan yang lama
Semua akan berakhir entah cepat atau lambat
Entah sekarang atau nanti
Yang jelas akan silih berganti untuk berubah
Bukan puisi perpisahan yang aku buat sekarang
Tapi kata-kata yang memang nyatanya akan di lalui dalam kurun waktu yang di jalani
Hidup di dimensi milenial sekarang lebih cepat berkembang
Daripada hidup di tempo doelo
Bukan menghina jaman dulu tapi menghargai apapun yang sudah di dapat
Bertopeng
Bukan ingin mengejarmu
Meminta agar engkau kembali mundur ke belakang
Atau berbalik arah melihatku
Aku cukup lelah dengan caraku
Bagaimana bisa mendapatkan dirimu lagi
Seperti dulu
Utuh
Pendiam
Kaku
Namun menyayangiku
Tidak banyak menuntut padaku
Menerimaku seperti ini dan tidak ingin merubah diriku menjadi orang lain
Namun seiring berjalannya roda poros bumi
Kau yang dulu aku kenal lenyap
berubah menjadi sosok yang berbeda
Seperti rumus matematika sulit di pecahkan
Unsur senyawa kimia yang mudah di cerna namun rumit untuk di pelajari
Molekul atom yang selalu hadir dalam setiap pertemuan
Entah itu hanya aku yang hiperbola atau engkau yang berubah
Tapi nampaknya benar kau berubah, menjelam menjadi orang bertopeng jahat
Tak di kenal
Meminta agar engkau kembali mundur ke belakang
Atau berbalik arah melihatku
Aku cukup lelah dengan caraku
Bagaimana bisa mendapatkan dirimu lagi
Seperti dulu
Utuh
Pendiam
Kaku
Namun menyayangiku
Tidak banyak menuntut padaku
Menerimaku seperti ini dan tidak ingin merubah diriku menjadi orang lain
Namun seiring berjalannya roda poros bumi
Kau yang dulu aku kenal lenyap
berubah menjadi sosok yang berbeda
Seperti rumus matematika sulit di pecahkan
Unsur senyawa kimia yang mudah di cerna namun rumit untuk di pelajari
Molekul atom yang selalu hadir dalam setiap pertemuan
Entah itu hanya aku yang hiperbola atau engkau yang berubah
Tapi nampaknya benar kau berubah, menjelam menjadi orang bertopeng jahat
Tak di kenal
Jika...
Bukankah memendam itu berat
Lebih berat daripada menyatakan
Aku juga malu untuk mengungkapkan
Karena apalah aku?
Aku hanya orang yang sudah lama sekali mendoakannya
Tuhan selalu menjadi perantara doa-doaku
Selalu di buat jatuh cinta saat melihatnya
Tapi tak bisa untuk di miliki karena sulit
Bukan bagaikan langit dan bumi
Tapi aku tak tahu
Jika kamu tahu rasanya menimpan itu pahit maka akan aku ajarkan padamu
Rasa menunggu lebih pahit dari kopi hitam
Jika semesta menghendaki, kamu bersama dengan orang lain
Tak apa nanti akan ku ungkapkan bahwa aku benar-benar menyayangimu
Tapi jika semesta kasihan melihatku
Lalu kamu menjadi milikku aku akan berterima kasih kepada semesta dan Tuhan karena telah memberi dirimu untukku.
Aku berjanji tak akan mengecewakanmu
Lebih berat daripada menyatakan
Aku juga malu untuk mengungkapkan
Karena apalah aku?
Aku hanya orang yang sudah lama sekali mendoakannya
Tuhan selalu menjadi perantara doa-doaku
Selalu di buat jatuh cinta saat melihatnya
Tapi tak bisa untuk di miliki karena sulit
Bukan bagaikan langit dan bumi
Tapi aku tak tahu
Jika kamu tahu rasanya menimpan itu pahit maka akan aku ajarkan padamu
Rasa menunggu lebih pahit dari kopi hitam
Jika semesta menghendaki, kamu bersama dengan orang lain
Tak apa nanti akan ku ungkapkan bahwa aku benar-benar menyayangimu
Tapi jika semesta kasihan melihatku
Lalu kamu menjadi milikku aku akan berterima kasih kepada semesta dan Tuhan karena telah memberi dirimu untukku.
Aku berjanji tak akan mengecewakanmu
Langganan:
Postingan (Atom)