Kamis, 18 April 2019

Kesalahan manusia

Bukan untuk di puji saat tampil indah
Juga bukan untuk di caci saat kesalahan tak sengaja terbuat.
Manusia sama, sederajat dan punya salah
Yang membedakan adalah cara pola pikir atau mungkin cara mereka memandang sesuatu hal dengan sebelah mata.

Jangan terlalu tinggi untuk di gapai
Jangan juga terlalu rendah supaya engkau di biarkan rendah.
Biasa saja tapi mempunyai konsisten yang selalu terisi.


Aroma tahun lalu

Layaknya seperti laksana yang mengikuti arus ombang-ambing dari segala mata angin
Kapal yang oleng terbawa angin laut
Ombak yang besar menghantam
Pasang surut yang terus terjadi

Jarum jam berputar tiada henti
Detik telah menjadi menit, menit berganti menjadi jam
Begitupun dengan pagi telah terganti dengan petang

Mendatangkan senja yang membawa bulan redup di malam ini
Terkadang hujan terkadang bagus
Tidak semua malam yang terlewat seperti malam-malam sebelumnya

Mungkin malam ini hujan sangat setia menemaniku sampai terlelap melupakan janji-janji manis kita dulu.
Hujan juga yang mendamaikan suara dari jeritan hati yang selalu berteriak menahan rindu
Aku suka saat angin malam membawa aroma sejuk untuk di hirup
Tapi benci juga saat hujan turun perlahan menyapu aroma tanah kering yang khas menusuk hidung

Bukan cokelat hangat yang menemaniku malam ini
Bukan juga selimut atau kaos kaki yang menghangatkanku di hujan malam ini
Tapi seluruh memori yang terputar tiada henti.

Memori yang selalu kuat dan terputar sendiri, aku tak tahu cara berhentinya bagaimana
Tapi itu selalu menari-nari dalam otakku.

Kau begitu pandai saat hujan tahun lalu di bulan yang sama kau ada bersamaku. Membawa aku ikut dalam putaran roda waktu yang ingin aku cepat ketahui kedepannya.
Namun, bulan ini di tahun yang berbeda kau tak lagi bersamaku.
Membiarkan masa yang akan datang untuk aku lewati sendiri.

Aroma tahun lalu masih terasa hangat selalu memeluk dan mencikku untuk tidak bergerak melepaskan semuanya.
Kau hebat menyulap semuanya menjadi seperti halusinogen.