Selasa, 26 Maret 2019

Jarum Jam

Seperti angin yang terasa tapi tak terlihat
Layaknya hujan yang menetes ke bumi tapi tak bisa di genggam
Mungkin juga seperti asap yang menyesakkan paru-paru tapi tiap kepulannya indah

Ini bukan kedua kali atau ketiga kali
Ini adalah yang kesekian kali
Engkau menjadi asap yang di bawa angin dan di pisahkan oleh hujan

Aku seperti asap yang engkau bawa kemana saja
Dan kau seperti hujan yang bisa menghilangkan itu semua

Jangan marah saat aku bilang kau mengilalang kemanapun
Jangan marah saat aku bilang kau beku seperti es
Jangan pula marah saat aku selalu bilang kau seperti jam pasir

Kau tak suka saat aku mendekat
Tapi, saat aku sudah menjauh kau tiada dosa menarik ku

Aku bukan layang-layang yang angin bawa kemanapun aku ikut
Juga begitu dengan rasa yang kau samakan dengan menarik ulur layang-layang itu.

Kau sangat pintar mengatur ritme yang tidak aku suka
Kau pintar saat menjadi bunglon yang berubah warna
Kau juga sama pintar dengan tupai yang lihay melompat

Aku tak mengutukmu atas dasar perasaan
Juga tak menuntutmu
Tapi yang aku mau kau jadilah seperti detikan jarum jam yang selalu mengikuti arah waktu


Tak mudah di jangkau

Dulu yang hanya ku tahu pelangi ada tujuh warna
Merah
Jingga
Kuning
Hijau
Biru, dan
Nila

Ternyata salah semua hanya melihat itu yang umum
Aku pun sama jika di tanya ada berapa yah aku jawab tujuh...
Padahal bukan.

Warna pelangi ada delapan di tambah dengan putih
Langit juga bukan biru
Mengapa?
Langit putih, indah, bersih dan cantik.

Langit tidak pernah membenci pelangi yang datang dan pergi
Langit juga tidak pernah benci senja yang cantik namun sebentar
Langit tak pernah membenci hujan yang membuatnya mendung

Langit menerima itu semua apaadnya.
Sebab itulah semesta meletakkan langit di atas agar tak mudah di jangkau oleh perasaan yang sebentar namun terasa lama...


HIPERBOLA

Sekarang yang hanya lebih sering menemaniku bukan kamu lagi. Tapi hanya ada laptop dan kabel charger yang panjang selalu setia menemaniku. Menemani menulis, menemani saat aku tertegun sendiri dan menemani lamunan panjangku yang selalu saja melamunkan dirimu.

Kau pandai dalam menciptakan hal yang selalu aku pikirkan, kau juga pandai sekali selalu memperlihatkan imajinasimu yang sangat indah. Kau juga pandai selalu membuat senyum di bibir ku ini cepat pudar.

Aku selalu saja melihat mata indahmu di balik kacamata itu, aku suka dengan goresan rahangmu yang kokoh, aku suka lekuk indah bibir tipismu tersenyum. Semua yang ada dan selalu tentang kau aku selalu suka.

Aku tak pernah menolak saat kau butuh, akupun selalu siaga saat engkau inginkan. Dan aku akan selalu ada dalam setiap detik denyut nadimu jika itu kau mau.

Aku selalu berfikir keras, kenapa engkau begitu indah? Semesta pintar, menciptakan suasana indah dengan orang yang kalah indahnya.

Kau baik, jadi aku suka. Itu saja yang aku suka awal denganmu.

Dulu, apa yang ku lihat tentang dirimu sangat tidak menarik, sangat bosan dan sangat abstrak menurutku. Tapi sekarang, apa yang engkau ciptakan selalu saja begitu membuatku ingin mengulanginya agar engkau selalu di sampingku.

Awalnya aku fikir engkau manusia yang sangat membosankan. Manusia yang selalu dengan hal lugumu itu. Tapi ternyata tidak. Kau asik! Ohya aku juga tak tahu mengapa perasaan itu tumbuh begitu cepat. Dan aku pun tak tahu mengapa bibit yang aku tabur untuk menolak perasaan itu mati.

Mungkin saat matahari terbenam disitulah sang semesta memperlihatkan indahnya dirimu...

Ah aku terlalu berlebih dalam memujamu seperti sajak hiperbola. Sebenarnya aku bukan seperti perempuan pada umumnya yang melihat, suka, tertarik lalu ingin jadi miliknya. Bukan! Aku bukan begitu. Aku hanya perempuan yang untuk melihat saja aku takut, apalagi aku mengagumi aku sangat takut, sebab jika mengagumi ciptaannya aku akan di sakiti oleh penciptanya. Jadi, cara ku menyukaimu yah itu aku ungkapkan dari bait sajak, tulisan dan ceritaku tentangmu yang penuh dalam memoriku.

Lelah sudah jariku mengetik tentangmu, lelah sudah bibirku tersenyum saat ingat dirimu dan juga aku lelah menyimpan rasa yang ingin aku teriakkan begitu kencang untukmu.

Seperti sajak hiperbola yang berlebihan untuk di ucapkan, fatamorgana yang tidak nyata namun terlihat sangat nyata, juga seperti pelangi yang sangat indah namun sebentar.

Tapi kamu bukan semua itu, kamu adalah langit yang selalu berubah pagi atau malam yang mengubah selalu ada batas waktu. Seperti putaran jam dinding yang sangat bosan untuk di dengar, detak jantung yang menggebar-gebar juga seperti desiran darah yang naik ketika namamu itu di sebut.

Bagaimana? Aku tak tahu...

Minggu, 24 Maret 2019

Rasa

Saat semua hati merasa dan menahan apa yang di rasa
Hati sering di caci, khianati, dan di benci
Bukan bearti hati tidak bisa mengikhlaskan, melupakan.

Untuk itupun tak kuat.

Tapi dimana satu titik
Hati hanya bisa bertahan saat semua melakukan itu

Ketika tubuh masih semangat, tapi? Cobalah pikirkan perasaan hati
Apakah ia masih kuat?

Yang lain bisa menilai dari sunggingan senyum sedikit
Dan aku disini tetap berdiri kokoh dengan kekuatan hati

Satu kunci yang sama.

Rumpang

Seperti Banda Neira
Yang tak mampu berkata namun ingin di dengar
Yang tak mampu di ucap namun ingin di mengerti

Bukan hanya rasa yang tumbuh begitu cepat
Menjalar bagaikan akar yang panjang
Menumpuk di ranting pohon yang akan menjadi lebat

Aku tak tahu mampu merangkai kata mulai dari mana
Yang jelas semenjak api telah menjadi asap dan sejak itulah
Aku merasa sesak

Aku bukan belajar dari Sapardi untuk menulis setiap sajak
Bukan juga menjadi Bapak Chairil Anwar
Aku tak bisa membuat otakmu cair saat membacanya

Namun yang aku bisa hanya mengeluarkan semua yang aku rasa
Lewat tulisan yang entah kapan akan engkau baca

Tulisan kelam melewati hari tidak denganmu lagi
Tulisan yang hanya bisa membuatmu bosan

Tapi aku mengerti, karena kamu bukan orang yang suka membaca
Aku tahu kamu sangat senang dengan Musik yang selalu engkau nyanyikan saat di sampingku

Aku hanya berdiam saja saat engkau menceritakan musik-musik indahmu itu...
Aku tak terlalu akrab dengan musik

Aku hanya akrab dengan sajak-sajak yang rumpang untuk selalu ingin diisi
Bukan banyak membaca sehingga bisa membuatku begitu mudah mengelurkan ini
Tapi banyak pelajaran yang selalu aku dapat darimu
Hingga aku bisa bersajak seperti ini