Selasa, 26 Maret 2019

HIPERBOLA

Sekarang yang hanya lebih sering menemaniku bukan kamu lagi. Tapi hanya ada laptop dan kabel charger yang panjang selalu setia menemaniku. Menemani menulis, menemani saat aku tertegun sendiri dan menemani lamunan panjangku yang selalu saja melamunkan dirimu.

Kau pandai dalam menciptakan hal yang selalu aku pikirkan, kau juga pandai sekali selalu memperlihatkan imajinasimu yang sangat indah. Kau juga pandai selalu membuat senyum di bibir ku ini cepat pudar.

Aku selalu saja melihat mata indahmu di balik kacamata itu, aku suka dengan goresan rahangmu yang kokoh, aku suka lekuk indah bibir tipismu tersenyum. Semua yang ada dan selalu tentang kau aku selalu suka.

Aku tak pernah menolak saat kau butuh, akupun selalu siaga saat engkau inginkan. Dan aku akan selalu ada dalam setiap detik denyut nadimu jika itu kau mau.

Aku selalu berfikir keras, kenapa engkau begitu indah? Semesta pintar, menciptakan suasana indah dengan orang yang kalah indahnya.

Kau baik, jadi aku suka. Itu saja yang aku suka awal denganmu.

Dulu, apa yang ku lihat tentang dirimu sangat tidak menarik, sangat bosan dan sangat abstrak menurutku. Tapi sekarang, apa yang engkau ciptakan selalu saja begitu membuatku ingin mengulanginya agar engkau selalu di sampingku.

Awalnya aku fikir engkau manusia yang sangat membosankan. Manusia yang selalu dengan hal lugumu itu. Tapi ternyata tidak. Kau asik! Ohya aku juga tak tahu mengapa perasaan itu tumbuh begitu cepat. Dan aku pun tak tahu mengapa bibit yang aku tabur untuk menolak perasaan itu mati.

Mungkin saat matahari terbenam disitulah sang semesta memperlihatkan indahnya dirimu...

Ah aku terlalu berlebih dalam memujamu seperti sajak hiperbola. Sebenarnya aku bukan seperti perempuan pada umumnya yang melihat, suka, tertarik lalu ingin jadi miliknya. Bukan! Aku bukan begitu. Aku hanya perempuan yang untuk melihat saja aku takut, apalagi aku mengagumi aku sangat takut, sebab jika mengagumi ciptaannya aku akan di sakiti oleh penciptanya. Jadi, cara ku menyukaimu yah itu aku ungkapkan dari bait sajak, tulisan dan ceritaku tentangmu yang penuh dalam memoriku.

Lelah sudah jariku mengetik tentangmu, lelah sudah bibirku tersenyum saat ingat dirimu dan juga aku lelah menyimpan rasa yang ingin aku teriakkan begitu kencang untukmu.

Seperti sajak hiperbola yang berlebihan untuk di ucapkan, fatamorgana yang tidak nyata namun terlihat sangat nyata, juga seperti pelangi yang sangat indah namun sebentar.

Tapi kamu bukan semua itu, kamu adalah langit yang selalu berubah pagi atau malam yang mengubah selalu ada batas waktu. Seperti putaran jam dinding yang sangat bosan untuk di dengar, detak jantung yang menggebar-gebar juga seperti desiran darah yang naik ketika namamu itu di sebut.

Bagaimana? Aku tak tahu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar