Aku
adalah aku bukan dia, mereka, atau siapun itu. Aku bisa mencintaimu dengan
caraku sendiri, menyayangimu dengan setulus hatiku, dan berkorban untukmu lebih
yang dari kau pikirkan. Aku juga bisa membuatmu menangis saat membaca surat
terakhirku ini. Dan yang lebih kau perlu tahu, bahwa aku mencintaimu lebih dari
yang kau tahu, aku sangat menyayangimu, dan yang lebih kau perlu tahu aku takut
kehilangan mu Dimas. Aku tak ingin kehilanganmu. Sampai akhirnya kau tahu aku
yang akan pergi meninggalkan mu untuk selama-lamanya. Maafkan aku Dimas. I Love You Dimas Shaputra.
By:
Nisya SyaputriAku menangis membaca surat terakhir dari kekasihku Nisya. Aku telah lama menjalankan hubungan dengannya, dari kami kelas satu SMA sampai kami telah tamat sekolah. Yah memang baru satun tahun kami tamat. Tapi hubungan kami telah lama terjalin, keluarga kami sudah saling tahu, dan keluarga kami merestui hubungan kami.
Satu tahun yang lalu tepat kelas tiga SMA, Nisya sebenarnya tidak ingin menceritakan semuanya kepadaku, dia menutupinya, dia berbeda dengan Nisya yang dulu yang aku kenal, yang selalu riang, tertawa, sangat hobi meneceritakan tentang film yang dia tonton semalaman suntuk, dia mengajarkanku pr matematika yang sanagat sulit, dan matematika itu pelajaran yang sangat ia senangi. Tapi semua itu berubah ketika aku tahu dari Bundanya bahwa Nisya mengidap kanker otak stadium akhir dan diperkirakan dia tidak bisa mengikti Ujian Nasional kelulusan sekolah. Tapi nyatanya tidak Tuhan berkehenak berbeda. Dia melewati ujiannya dengan sangat mudah dan menjalankannya tanpa ada hambatan. Sampai ujian itu berakhir dan aku pulang bersama dia.
“Sayang, tolong jujur denganku. Kamu sakitkan?” ucapku
“Tidak Dimas aku tidak sakit, aku baik-baik aja kok. Gak ada yang perlu kamu khawatirin” jawabnya dengan senyuman khasnya yaitu menimbulkan lesung pipi yang sangat dalam.
“Tapi, kamu sedang mengidap suatu penyakit. Yang aku tahu penyakit itu parah, dan yang lebih membuatku kecewa kamu tidak pernah menceritakan semuanya denganku” aku berbicara dengan nada sedikit tinggi. Karna aku ingin dia menjawab omonganku dengan jujur tanpa berbohong.
“Tidak Dimas, aku tidak apa-apa” jawabnya mengelak.
“Nisya. Kita udah lama pacaran, keluarga sudah saling tahu dan mendapatkan izin. Kita sudah tahu satu sama lain, kita sudah melengkapi, kita sudah pernah melewati masa-masa sulit, senang, bahagia, haru, kita lalui bersama. Mengapa kamu tidak jujur mengatakan kalau kamu sedang sakit?” celotehku dengan panjang tanpa ada stop.
“Yahh aku kalah. Aku memang sedang sakit, sakit yang begitu parah, sakit yang tak ada harapan untuk hidup kembali, untuk menemanimu sampai maut memisahkan kita. Aku takut saat aku menceritakan ini kau sedih, kau khawatir, kau memikirkan aku dan kau tak perduli dengan urusanmu dan pendaftaran kuliah yang sedang kau ikuti. Aku takut itu terjadi Dimas!” ucapnya begitu panjang. “Aku mengidap sakit Kanker Otak stadium akhir. Kata dokter kecil harapanku untuk hidup” sambungnya lagi, dia menjawab dengan meneteskan air mata dipipinya yang tembam.
Bibirnya
yang pucat tak kuasa aku untuk menahan tangisku. Tangisku akhirnya pecah. Ini
baru pertama kalinya aku menangis dihadapan Nisya orang yang sangat aku
sayangi. Selama ini dia tak pernah melihatku menangis, dan aku tak pernah
menangis dihadapan dia. Aku menyayanginya dengan setulus hatiku, aku sangat
sayang dia Tuhan. Mengapa kau tega memberi ujian yang sangat berat kepadaku dan
kepada kekasihku? Tapi aku masih sangat berfikir apakah penyakit Nisya akan
sembuh dalam waktu dekat? Karna kami telah merencanakan tiga bulan setelah
tamat sekolah ini, kami akan bertunangan. Keluarga pun telah menyetujui rencana
kami.
Kelulusan
sekolah telah didepan mata, besok kami akan menyaksikan siapa saja yang masih
duduk dibangku SMA dan siapa saja yang telah berhasil lulus dari SMA Kusuma
Bakti itu. Malam ini aku menemani Nisya dirumah, karna Bunda dan Ayahnya sedang
menyaksikkan Sandra adik Nisya pentas Piano. Sandra sangat ingin Nisya kakaknya
datang pentas perayaan hut hari jadi sekolahnya itu, untuk malam ini. Tapi
karna kondisi Nisya yang sangat lemah, Sandra mengerti dan Bunda menitipkan
Nisya kepadaku, dirumahnya ada aku, Nisya dan pembantunya. Kami duduk di ayunan
belakang rumahnya, aku menyanyikan lagu dengan menggunakan gitar. Aku
menyanyikan lagu Anima – Bintang. Lagu itu adalah lagu kesukaan kami berdua,
kami selalu menyanyikan lagu ini saat perjalanan pulang sekolah didalam mobil.
Aku rindu dengan masa-masa itu, memang sekarang Nisya masih ada disekatku,
tetapi dia tidak seperti dulu, dia sekarang banyak diam dan sering melamun.
Meskipun Nisya begitu, tak terlintas dibenakku untuk berpaling dari kekasih ku
itu, kekasih yang sangat aku sayangi dan Bissmilah calon istri dunia akhirat,
amin Ya Allah.
Bulan
itu, bulan September adalah bulan kesedihan bagi aku, keluargaku, keluarganya,
serta teman-tamannya. Mengapa Nisya mengalami kegagalan saat menjalankan
kemoterapinya untuk yang kedua kali, dia mengalami koma selama satu minggu, dan
dia sempat bangun cuma tiga hari saja. Setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya
dan menuliskan surat untukku, dia kembali tidur. Yahh tidur tidur untuk
selama-lamanya. Dan tak akan bangun lagi.
Aku
masih ingat ucapan terakhirnya untukku “Dimas, aku mencintaimu. Jika aku tak
ada untukmu, gantikan posisiku dihatimu dengan gadis yang lebih baik lagi, dan
bisa menemanimu hingga akhir hayatnya” Aku tak kuasa mendengar ucapnya itu, aku
langsung memeluknya dengan pelukan kasih sayang. Dan aku berkata. “Nisya
sayang, gak boleh bilang gitu. Kamu pasti sembuh kok sayang. Dan gak ada yang
bisa menggantikan posisimu dihati ku sayang” Nisya yang lemah hanya mengangguk
lemah, dan tak berdaya. Lalu aku kuatkan lagi pelukan ku untuknya sehingga dia merasa
nyaman.
“Dimas. I Love You” “Love you to sayang” jawabku pelan, dan dia melepaskan pelukan ku dari badannya. Dia izin izin untuk tidur sebentar katanya sangat mengantuk sekali. Aku yang sangat sayang kepadanya aku izinkan dia untuk tidur. Malamnya aku beniat untuk menjaga Nisya dirumah sakit. Aku menuju kerumah sakit yang sedang dia tempati. Aku membawakan bunga Mawar yang sangat dia suka, saat perjalananku menuju kamar rawatnya. Aku melihat Bunda Nisya, Ayahnya, dan Sandra adiknya menangis terseduh-seduh seakan baru kehilangan sesuatu. Aku yang cemas, langsung mengahampiri Bunda dan bertanya “Ada apa Bunda?” bunda yang masih terisak dalam tangisnya. Tak kuat untuk mengeluarkan suaraya.
Lalu Sandra yang menjawab “Kak Nisya, Bang. Kak Nisya” jawab Sandra terseduh seduh “Adaapa dengan Nisya, Ndra?” tanyaku semakin penasaran “Kak Nisya sudah tiada”
Bunga yang aku pegang jatuh dari tanganku, badan ini terasa sangat lemah dan seketika ambruk di kursi yang disediakan. Air mataku jatuh tak berhenti. Apalagi saat aku melihat jenazah Nisya terbaring tak berdaya sangat pucat, lewat dengan keranjang yang di dorong oleh para suster dan satu orang dokter.
Besoknya tepat jam 10 pagi, aku ikut mengantarkan ketempat peristirahatan terakhirnya. Orang-orang sudah pergi meninggalkan makam Nisya, tapi aku masih saja duduk menangis disebelah makam Nisya. Dan Sandra yang ingin pergi meninggalkan makam Nisya kakaknya, dia berhenti dihadapanku dan memberikan amplom yang berwarna Biru, warna kesukaan kami berdua. “Ini Bang, aku temukan diatas buku agendanya Kak Nisya, dan aku lihat da tulisan For Dimas” aku mengambil amplop itu dari tangan Sandra. Setelah itu Sandra pergi meninggalkan ku.
Dua jam aku masih duduk disebelah makam Nisya. Aku pergi meninggalkan makamnya dan pulang kerumah. Dirumah tepat didalam kamarku, aku membuka surat dari Nisya, aku mendapatkan banyak foto-foto kami berdua. Foto yang konyol, aneh dan begitu romantis. Aku kangen masa-masa itu. Tapi Tuhan berkata lain dan takdirpun mewujudkannya. Aku membaca suratnya aku menangis saat membaca surat darinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar