Astaga
aku kembali menatap wajah dia kali ini, tapi aku menatapnya tidak seperti dulu
dengan cara aku mengawasinya dari kejauhan, dan membayangkan apa yang akan
terjadi itu akan terjadi juga untukku disuatu hari nanti. Dan suatu hari itu
adalah sore ini, sore yang diguyuri hujan yang tak begitu deras, tapi membasahi
seluruh jalan yang berada di dekat rumahku.
Yahh
sore ini aku bertemu dengan Rama, kali ini aku langsung bertemu dengan dia, aku
langsung berbicara dengan dia, dan aku sempat memandang wajah dia yang begitu
lucu saat aku lihat dia secara langsung. Kembali terikat di pikiranku kalau aku
mencintai dia lebih dalam dan sepenuh hati. Aku dan Rama sudah pacaran satu
bulan lebih, dan kami sempat putus untuk yang kedua kalinya, tapi sekarang
Allhamdulilah aku menjadi miliknya, dan ia menjadi milikku. Entah untuk berapa
lama, aku harap ini untuk selama-lamanya. Selama satu bulan ini, kami pacaran
tidak bernah bertemu secara tatap muka, tidak pernah dia mengantarku dan
menjemputku saat pulang sekolah. Padahal kami satu sekolah, kami berbeda satu
tahu, dia kelas XI. Dan aku baru kelas X. Kami berbeda jurusan, itulah yang
membuat kami jarang bertemu. Dan jujur sore ini adalah pertemuan pertamaku
bersama dia, aku sangat senang, aku bahagia,
dan pertemuan itu tidak bisa membuatku tidur nyanyak, dan saat aku tidur
aku pun mimpi tentang dia. Ohh tuhan apa arti ini? Aku memang belum diperbolehkan pacaran oleh Ibuku, tapi Ayaku boleh. Itulah yang menyebabkan aku tidak pernah mengajak dia main kerumahku. Tapi dia tidak pernah menuntunku untuk mengajak kerumahku, karna dia mengerti keadaanku. Dan sore itu aku bertemu dengan dia secara diam-diam didepan lorong dekat rumahku. Aku senang sekali bisa berbicara langsung dengan dia, meskipun pertemuan itu singakat, tapi pertemuan itulah yang membawaku ingin selalu bersama dia. Kemarin sore itu dia meminta betadin atau obat luka kepadaku, karna kaki dia luka saat main futsal tadi, aku langsung menjawab ada. Dan dia langsung bilang “Abang, kerumah adik yahh sekarang” sore itu hujan, tapi dia nekat dan aku pun menunggu dia didepan lorog rumahku.
Saat dia menghampiriku aku terkejut, dan jantungku berdegup kencang, aku grogi saat berbicara dengan dia, “Gak, di pakekkan betadinnya?” kata dia memhentikan lamunanku karna memandang wajahnya. Aku menjawab dengan singkat “Tidak” di bilang “Yaudah, abang pinjem yahh, abang dulu pulang yah. Dik?” katanya berpamitan. Aku ingin mencegah dia supaya tidak pulang, tapi apa boleh buat hujan agak sedikit deras, dan hari pun hampir menjelang magrib. Dia berpamitan dan menyalakan mesin motornya lalu pulang.
Tadi saat dia mengambil betadin dari tanganku dia sempat memandangku sebentar, ohh tuhan mukanya manis sekali, berbeda dengan yang aku lihat dari jarak jauh, dan saat aku melihat dia dari foto. Hidungnya yang mancung, serta suaranya yang belum pecah masih kayak anak kecil. Aku mencintainya tuhan, sungguh aku mencintainya. Aku ingin sekali menghabiskan waktu banyak bersama dia, berfoto bersama dia, menyanyi bersama, dan yang paling aku ingin mempunyai gelang couple yang bertuliskan “LOVE” aku menginginkannya tuhan.
Kapan tuhan aku bisa bersama dirinya lebih lama, duduk disamping dia lebih lama, dan bersandar di bahunya yang membuatku nyaman. Lalu dia menyayikan ku sebuah lagu cinta memakai gitar. Aku menginginkannya tuhan, tapi kapan tuhan? Haaa kita tunggu saja waktu yang lebih tepat mungkin ini adalah sebaggian rencanamu tuhan, aku akan setia menunggu rencanamu yang lebih baik dari ini. Aku menunggunya tuhan.
Sore yang hujan itu menjadi saksi bisu atas pertama kalinya aku bertemu, tatap muka, dan berbicara secara langsung bersama dia. Love you Rama~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar